Anda yang tinggal di Cengkareng pasti tidak asing dengan nama Rawa Buaya. Bukan hanya nama itu tertera pada halte Busway Transjakarta dan stasiun kereta api, tetapi konon kabarnya orang penduduk betawi asli memiliki kebiasaan memberi nama daerah sesuai keadaan saat itu. Contohnya Kebon Jeruk, Pondok Kelapa, Rawa Bebek, dan sebagainya.
|
Mustahil saat ini menemukan binatang buaya di Rawa Buaya walau nama daerahnya menyebutkan demikian. Tetapi Anda bisa menemui binatang tersebut dalam jumlah ratusan bila berkunjung ke Taman Buaya di daerah Tanjung Pasir sekitar 20 km dari pusat kecamatan Cengkareng.
Jalan menuju lokasi cukup membingungkan bila yang sama sekali belum pernah kesana. Tidak ada rambu ataupun petunjuk jalan yang menunjukkan arah. Walau beberapa kali diliput oleh stasiun televisi nasional, minimnya publikasi di media lain dan kurangnya perhatian pemda pada potensi pariwisata setempat, masih banyak warga Cengkareng yang sama sekali belum mengetahui keberadaan tempat ini.
|
Jika berangkat dari arah Jl Daan Mogot menuju tol bandara, Anda akan menemui jalan ke kiri ke arah Kamal di perempatan Tegal Alur. Setelah belok ke kiri, ikuti jalan menuju kamal yang nantinya melalui jembatan tol bandara. Setelah berjalan di sisi tol dan menemukan pertigaan, belok ke arah kanan dan melihat gedung SMP 120 dari dekat atau Stadion kamal dari kejauhan.
Setelah itu Anda harus belok ke kiri, karena jika terus akan menuju Pasar Ikan Kamal. Setelah pertigaan tadi Anda akan melalui daerah yang bernama Kampung Melayu dan Kosambi. Ikuti jalan menuju Teluk Naga atau pantai Tanjung Pasir. Sebelah kanan jalan Anda akan menemui patung buaya yang besar. Di sinilah lokasinya.
Setelah masuk dari pintu gerbang CENGKARENG.INFO membeli tiket di gedung loket pembayaran sebesar Rp6.000,- per orang dan Rp3.000,- untuk pemgemudi bersama mobilnya. Dari gedung tiket, lokasi kolam-kolam buaya masih beberapa ratus meter di depan. Taman dengan luas lahan seluas 6 hektar ini dimiliki oleh Sdr. Lukman Arifin seorang pencinta buaya sejak tahun 1960.
Ada tiga cabang yang beliau miliki dan kelola. Pertama di Bekasi, yaitu di Jl Lippo Cikarang ke arah Cibarusa. Lokasinya, setelah keluar pintu tol Lippo Cikarang Lemah Abang setelah lampu merah belok kanan. Sekitar 11 km dari lampu merah barulah sampai di lokasi pusat penangkaran 500 ekor buaya di Bekasi.Lokasi kedua adalah di Bali. Persisnya daerah ke arah Bedugul belakang Taman Ayun. Jumlah penghuni taman ini juga sekitar 500 ekor. Ketiga adalah di Tanjung Pasir ini. tempat yang sekarang dikelola oleh putra ketiga dari Bapak Lukman ini juga dihuni oleh 500 ekor buaya.
CENGKARENG.INFO diterima oleh Bapak Djoko Warsito. Pria kelahiran tahun 1964 ini menjabat sebagai divisi Humas dan Entertainment di Taman yang baru dibuka sejak 7 Juli 2005 lalu. Pria yang memiliki background seni rupa inilah yang membangun patung buaya raksasa di gerbang masuk. Dengan bakat itulah Pak Djoko dahulunya sering diajak bergabung dengan perusahaan film seperti Rapi film dan Soraya film untuk menjadi staff divisi dekor dan arsitektur.
Pak Djoko bekerja di Taman Buaya sejak dari tahun 1991 saat taman buaya masih berlokasi di Bekasi saja dan di Tanjung Pasir ini beliau baru bekerja selama satu tahun. Beliau mendapat izin menemui keluarga yang berada di Bekasi sebanyak dua minggu sekali.
Tidak lama kemudian bergabung bersama kita adalah pawang junior yaitu Pak Djamal. Pria yang bergabung sejak 2 tahun lalu ini tinggal tidak jauh dari lokasi Taman. “Di tempat seperti ini percaya atau tidak kadangkala masih ada hal yang berbau mistis”, menurut Pak Djamal. “Pernah saya melihat sepasang buaya yang aneh, karena memiliki kuku di jari masing-masing tujuh buah, tetapi ketika siangnya saya cari, buaya itu tidak ada”, tambahnya. Sebagai informasi, binatang reptil ini seharusnya hanya memiliki lima jari depan dan 4 jari belakang.
“Kami para pawang harus punya bekal mistik atau istilahnya pegangan”, ujar Pak Djoko.”Kami memiliki sabuk yang harus digunakan ketika masuk ke kandang buaya agar bisa selamat. Kegunaan lain adalah ketika pergi ke rawa dan ketika kami ingin memeriksa apakah ada buaya atau tidak, kami tinggal meludah di atas telapak tangan dan menepuk permukaan air dengan tangan sebanyak 3 kali alhasil jika ada buayanya, maka binatang tersebut akan muncul ke permukaan air” , jelas Pak Djoko dengan panjang lebar.
Makanan dari para buaya ini adalah ikan dan ayam negeri. Ayam yang disuguhkan adalah ayam yang sudah mati. Maka dari itu, ketika musim flu burung lalu, para buaya berpesta pora. Untuk satu kali makan dibutuhkan supply makanan sebanyak 700 kg sampai 1 ton bahan makanan. Buaya ini tidak setiap hari makan tetapi biasanya memiliki jadwal bersantap satu minggu tiga kali.
Buaya yang terdapat di taman ini adalah hanya jenis buaya sumatera atau nama latinnya adalah Crocodillus Porusus. Di tempat penangkarannya di Bekasi jenisnya lebih beragam. Taman yang belum memiliki hubungan dari WWF atau organisasi LSM asing ini juga belum mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal jika serius digarap, tempat ini akan mendatangkan banyak pemasukkan ke negara dan bisa menjadi simbol pariwisata daerah Tangerang dan sekitarnya.
CENGKARENG.INFO menanyakan tentang adanya sponsor agar fasilitas taman hiburan ini lebih lengkap. ”Kami sudah mencoba untuk mendekati salah satu produsen rokok sigaret terbesar dan tinggal menunggu hasilnya”, jawab Pak Djoko.”Di sebelah kiri lahan akan dibangun fasilitas gedung pertunjukan buaya yang diperkirakan selesai di tahun 2010 nanti dan pastinya membutuhkan biaya yang cukup besar. Kehadiran sponsor sangatlah membantu ”, tambahnya menutup pembicaraan.
Semoga warga Cengkareng bisa memanfaatkan fasilitas taman hiburan ini dan Selamat berekreasi!
Contact: Djoko Warsito, Taman Buaya Tanjung Pasir, Jl Raya Tanjung Pasir - Tangerang
Telp : 021 98168810
AA
| Comments |
|









