Alternatif Transportasi Via Tol Bandara

E-mail Print PDF
Sample ImageKemacetan menjadi masalah yang sangat pelik di kota besar seperti Jakarta. Menurut liputan Republika Online pada tanggal 20 Juni 2007, kerugian akibat kemacetan mencapai Rp 80 Triliun. Angka itu diperoleh dari 60 kota/kabupaten besar yang ada di Indonesia. Sungguh luar biasa!

Guru Besar Transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Ofyar Z Tamin menambahkan bahwa untuk wilayah Jakarta kerugian yang diderita mencapai sekitar Rp 3 triliun per tahunnya. Jumlah itu belum termasuk kerugian waktu, serta emosi yang dialami para pengendara di jalan raya.

Selain menggunakan transportasi pribadi, di sekelilig kita memang sudah terdapat angkutan umum yang sedikit lebih nyaman dibanding angkutan umum biasa seperti kereta api listrik dan busway. Ternyata di wilayah Cengkareng juga terdapat transportasi alternatif baru yang cukup memadai untuk bisa menyiasati masalah habisnya waktu di dalam perjalanan.

Active Image
Kendaraan yang pada umumnya bermerk Isuzu Elf ini berangkat dari kota Tangerang menuju Kota. Berhubung pada setiap pagi Jalan Raya Daan Mogot penuh sesak dan semerawut seperti benang kusut maka ada beberapa mobil yang memilih untuk mengambil jalur yang berbeda, yaitu melalui jalan Cendrawasih Raya untuk langsung menuju ke arah Tol Bandara menuju Kota.

Dari inisiatif pengendara mobil-mobil itu berpindah rute, akhirnya gayung bersambut. Banyak konsumen pekerja kantoran yang ingin cepat sampai ke tempat kerja pada pagi hari. Angkutan ini dipilih karena menurut mereka bebas macet (masuk toll bandara langsung ke arah Kota).

Mobil-mobil yang pernah beberapa kali didemo oleh B84, mikrolet M13 dan angkot Cengkareng -Kamal ini menunggu penumpang di daerah Tangerang tepatnya di daerah Pintu Air dekat kantor walikota Tangerang. Pada saat di demo, sempat armada ini sempat menghilang selama beberapa hari. Tapi setelah ada kesepakatan, barulah armada ini beroperasi kembali.

Mobil yang ke menuju ke arah kota pada pagi hari ada 2 trayek. Yang pertama keluar di pintu toll 1 Pluit dan yang lainnya di pintu toll 2 Gedong Panjang (kota). Untuk mobil yang keluar di pintu toll 1 Pluit, ongkosnya lebih murah, yaitu sekitar Rp3.500 sampai dengan Rp4.000 untuk mobil yang tidak menggunakan pendingin udara. Karena keluar di pintu toll 1 Pluit, maka mobil harus melewati Rumah Sakit Atmajaya dan Jl Jembatan 3 (menuju arah gedong panjang juga) sehingga waktu tempuh menjadi agak lama. Di tempat itu terdapat beberapa traffic light dan pintu perlintasan kereta api.

Kendaraan yang trayeknya keluar di pintu toll 2 Gedong Panjang memiliki jarak waktu tempuh lebih singkat karena tidak terkena traffic light lagi. Setelah keluar dari gerbang toll, kita sudah langsung berada di Jl Gedong Panjang sehingga tinggal berjalan lurus sudah langsung memasuki Jl Pejagalan dan Pasar Pagi Asemka Kota. Tarifnya sedikit lebih mahal, yaitu Rp4.500,- untuk yang tidak menggunakan pendingin udara dan Rp5.000,- bagi yang menggunakan pendingin udara.

Saya pribadi pasti memilih rute yang keluar di pintu toll 2 Gedong Panjang karena lebih singkat waktu tempuhnya, tidak terkena macet atau traffic light lagi (kecuali toll-nya juga macet).
Setibanya di stasiun Kota (Beos), terdapat bermacam-macam alternatif transportasi. Ada yang melanjutkan perjalanan menggunakan Busway jurusan blok-M, mikrolet, bajaj atau berlanjut menggunakan bus Patas AC seperti saya. Berhubung kantor saya berada di daerah Kuningan, dari stasiun Kota saya langsung menunggu Patas AC 79 (Kota Kp Rambutan) atau Patas AC 86 (Kota - Depok). Tarif untuk perjalanan dari Kota ke Kuningan hanya Rp3.000,-.

Dengan kendaraan umum ini, waktu tiba di kantor lebih awal dibanding dengan menggunakan sepeda motor atau kendaraan pribadi. Saya biasanya pergi dari rumah pukul 06.30, menunggu mobil di belakang rumah (Jl Cendrawasih Raya), sampai setibanya di stasiun Kota persis pukul 7.00WIB. Menunggu bis patas AC hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja. Setibanya di kantor di Jl HR Rasuna Said Kuningan, biasanya tiba kurang dari pukul 8:00 WIB. Jika dilihat dari segi biaya, memang jauh lebih murah kita mengendarai sepeda motor ke tempat kerja, tetapi kadangkala tidak sebanding dengan letihnya kita di perjalanan.

Di dalam kendaraan, uniknya terdapat semacam ikatan antar sesama penumpang, karena hampir setiap hari bertemu dengan orang yang sama sehingga di antara penumpang banyak yang sudah saling mengenal baik. Bahkan para penumpang juga mengenal nama-nama supirnya. Saya hanya tiga kali dalam seminggu menggunakan transportasi umum ini sehingga tidak bisa mengenal secara dekat satu persatu.

Berhubung mobil ini ada yang full AC dan menggunakan kaca serba gelap, para sopir tidak mau sembarangan mengangkut penumpang. Dahulu pernah ada suatu kejadian kriminal di dalam kendaraan tetapi tidak bisa terlihat dari luar karena kacanya yang terlalu gelap. Karena itu, sopir mobil yang full AC dengan kaca hitam biasanya dapat memilih calon penumpang. Jika ada penumpang yang terlihat asing, kecil kemungkinannya untuk diangkut oleh sang sopir. Dulu kendaraan yang full AC dengan kaca hitam ongkosnya Rp4.500,- tetapi sekarang sudah naik menjadi Rp5.000,-

Sekian informasi yang saya bisa sampaikan. Semoga bermanfaat bagi teman-teman warga Cengkareng

Salam

 

Riza Iskandar
This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
kontributor

 

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.21 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Friday, 25 April 2008 21:07 )  
Banner