Di tengah berlangsungnya kampanye salah satu calon gubernur DKI di wilayah Cengkareng dan sekitarnya, kendaraan umum tetap setia beroperasi walau kendaraan kadangkala terpaksa mengubah rute.
Ini disebabkan karena petugas keamanan kampanye menutup jalan raya utama dan mengalihkan kendaraan ke jalan-jalan di sekitar perumahan penduduk.
Salah satunya adalah mikrolet M13. Kendaran ini pada awal beroperasi memiliki trayek terminal Kalideres hingga stasiun Kota, tetapi karena adanya kompromi dengan kendaraan umum berpelat hitam dan angkot lain, maka rute yang ditempuh berubah menjadi Terminal Kalideres hingga sampai Kapuk saja.
CENGKARENG.INFO berkesempatan untuk menaiki salah satu kendaraan yang dikendarai seorang pengemudi bernama Bang Jack (nama samaran). Pria kelahiran tahun 1976 ini baru saja berangkat dari timer (orang yang untuk bertugas menghitung dan mengatur frekuensi mobil pulang dan pergi) yang berlokasi di depan Plaza Cengkareng dengan keadaan kosong penumpang. Dengan harapan akan lebih terasa akrab ketika wawancara, CENGKARENG.INFO sengaja mengambil tempat duduk di sebelahnya.
“Kita nggak kenal itu yang namanya retribusi”, ujarnya lagi ketika CENGKARENG.INFO menanyakan apakah ada retribusi resmi yang harus dibayar oleh para supir mikrolet ini. “Yang jelas, para supir harus membayar timer di Kapuk sebesar tiga ribu rupiah per hari”, tambah Bang Jack.
Di terminal Kalideres dimana semua armada mengakhiri tujuan trayek dari Kapuk, para pengemudi membayar petugas jalan raya paling tidak sebesar seribu rupiah sebanyak dua kali sehari. “Para preman kadangkala meminta jatah juga di Kapuk, tapi jumlahnya tidak besar, hanya seribu rupiah saja. Paling -paling hanya untuk sekedar minum-minum”, jawabnya ketika CENGKARENG.INFO menanyakan tentang pungutan lainnya.
Pungutan juga terjadi ketika mikrolet ini mengambil penumpang di lokasi gemuk, atau lokasi yang biasanya dipadati calon penumpang yang menunggu kendaraan. “Kita biasanya memberi uang sebesar seribu rupiah hingga dua ribu rupiah jika penumpang full atau tempat duduk penuh terisi. Jika hanya satu atau dua orang yang naik, mereka maklum dan kami tidak perlu memberi uang”, ujar Bang Jack.
Dengan satu harinya memiliki target sebanyak tujuh rit (frekuensi pulang pergi) dari terminal Kalideres ke Kapuk dan sebaliknya, beliau merasa pungutan tadi wajar-wajar saja selama jumlahnya tidak terlalu besar.
Tidak berbeda dengan Bang Jack, supir mikrolet berbeda yang tidak ingin disebutkan namanya ini juga tidak mengenal retribusi atau pungutan resmi dari pemda. “Saya tidak pernah tuh menerima tiket bukti pembayaran apapun yang bentuknya retribusi”, ujarnya. Pria yang berprofersi sebagai supir tembak ini memiliki jam operasional selama setengah hari saja karena harus berbagi dengan temannya yang berstatus supir batangan. Adapun istilah supir batangan adalah seorang supir utama atau resmi dari kendaraan mikrolet ini. Dia bertanggung jawab pada jumlah uang setoran perhari. Supir tembak adalah supir tidak resmi atau pengemudi paruh waktu. Berapapun jumlah uang yang diterima pada masa operasionalnya, seluruhnya bisa diambil sebagai hak pengemudi. Beliau mengeluh karena akhir-akhir ini sudah jarang anak sekolah menggunakan jasa kendaraan berwarna biru telor asin ini. “Mereka kebanyakan mengendarai sepeda motor ke sekolah”, tambah supir yang maksimumnya hanya bisa beroperasi sebanyak empat rit ini.
“Malam minggu di tanggal muda adalah panen bagi kami”, saat CENGKARENG.INFO bertanya kapan saja waktu untuk mereka menikmati pendapatan yang lumayan.”Kita bisa mengantongi seratus ribu rupiah sehari tanpa harus mikir retribusi-retribusi segala “, ujar beliau menutup pembicaraan. Memang cukup unik sistem angkutan umum dan pengemudi yang sangat akrab dengan kita ini. Mereka tidak mengenal kata retribusi tapi kena banyak pungutan.
| Comments |
|



