Setiap orang memang memiliki hobi dan kegemaran berbeda. Ada yang gemar berolahraga, bermain musik, mengutak-atik mesin mobil atau motor dan sebagainya. CENGAKRENG.INFO mengamati ternyata banyak juga orang yang secara sengaja atau tidak menjadi kolektor duit (Uang kertas dan koin). Orang yang tidak sengaja menjadi kolektor duit mungkin saja disebabkan karena mendapat warisan dari generasi terdahulu, menemukan kembali duit yang terselip di laci atau buku bertahun-tahun silam, pemberian teman dan lain sebagainya. Kolektor duit yang benar-benar serius lebih terasa perjuangannya. Dari hunting ke toko kecil hingga outlet besar di mal. Dari Sabang hingga Marauke.
Mungkin sebagian orang akan bertanya-tanya, "Apa sih sebenarnya Duit itu? Koq, bisa dikoleksi? Di mana kenikmatannya? "Duit atau uang sebenarnya adalah alat tukar dalam praktek transaksi jual beli. Dahulu kala orang melakukan transaksi jual beli dengan barter, tanpa membutuhkan duit. Tapi seberjalannya waktu dan berkembangnya peradaban, lahirlah salah satu alat tukar yang dipakai hingga saat ini, yaitu duit.
Mengoleksi duit sebenarnya tidak jauh dari mengoleksi perangko. Barang yang beredar di masyarakat akan langka karena pada saat tertentu jangka waktu penggunaannya akan habis. Di Indonesia melalui Bank Indonesia sebagai bank Sentral, uang dicetak dan diedarkan dengan masa berlaku tertentu. Paling tidak dalam jangka lima sampai sepuluh tahun masa berlaku pasti habis dan uang baru akan dikeluarkan. Di sinilah para kolektor mengambil posisi.
Melihat koleksi duit kertas atau koin tak ubahnya seperti menikmati perjalanan waktu. Setiap jenis uang memiliki sejarah berbeda. Penulis sendiri melihat koin Rp5,- Rp10 dan sebagainya langsung membangkitkan kenangan ketika saat kecil dahulu. Ketika naik becak dari Jalan Mawar ke Jalan Utama Raya Cengkareng hanya membutuhkan biaya Rp75,- di sekitar tahun 1985. Ketika naik angkot dari Merak ke Cilegon untuk siswa hanya Rp50,- per orang di sekitar tahun 1987. Ketika dengan hanya memiliki Rp.25,- masyarakat bisa ikut bermain judi di sepanjang jalan samping Balai Rakyat (Kala itu judi bebas ada di mana-mana). Ketika duit begitu besar nilainya.
Masih ingat duit Rp50.000,- rilisan tahun 1993 versi bapak pembangunan Indonesia, mantan presiden Suharto? Kini jenis uang tersebut menjadi barang yang dicari oleh kolektor. Begitu pula dengan duit pada era presiden Sukarno. Jika dilihat dari umurnya, Anda bisa bayangkan betapa besar nilainya.
Di bawah ini terlihat contoh dari sedikit koleksi duit kertas Republik Indonesia. Semakin langka, semakin tua, semakin menggoda. Bagaimana dengan Anda? Tergoda untuk mengoleksinya?
dan masih banyak lagi.........
| Comments |
|











