Virus Jazz Sudah Masuk Cengkareng?

E-mail Print PDF

Musik jazz sudah mulai menyebar wabahnya di berbagai kalangan pecinta musik. Buktinya pagelaran musik yang diadakan oleh salah satu perusahaan rokok di Indonesia beberapa waktu lalu penuh pengunjung, padahal harga tiket yang dibenderol adalah sebesar rata-rata gaji sebulan rakyat Indonesia. Musik yang pada awalnya diusung oleh budak dari afrika ini telah naik derajat secara drastis dari segi prestisius menjadi atribut Life style golongan eksekutif metropolitan.

Penularan wabah ini berlanjut hingga ke kaum pelajar dan mahasiswa, terbukti dengan suksesnya pegelaran Jazz Goes to Campus (JGTC) yang secara berkala diadakan di kampus UI Depok. Band-band di belantika musik tanah air pun sudah banyak yang awalnya 'bunuh diri' masuk industri dengan mengusung aliran ini tetapi ternyata mereka mendapat sambutan yang sangat luar biasa, lihat saja Trisum, RAN, Malique and the Essential atau ecoutez! nya Levi bassist the Fly. 

Bagaimana dengan di Cengkareng? 

Jika dilihat dari festival atau pagelaran musik di sekitar Cengkareng memang belum terlihat band yang mengusung aliran musik ini. Pernah pada suatu hari CENGKARENG.INFO melihat satu dua band yang berlatih di studio musik dengan full band berikut alat tiup dan biola segala untuk membawakan musik jazz, tetapi menurut kabar dari salah satu sumber, band tersebut sudah bubar karena masing-masing anggotanya sudah aktif bekerja menjadi karyawan di perusahaan. Sayang sekali.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi sedikit kebalnya band anak muda Cengkareng dari serangan virus Jazz. Pertama adalah referensi. Penduduk Cengkareng memiliki berbagai latar belakang budaya. Sebagian masyarakatnya adalah kaum pendatang dari daerah luar Ibukota yang mewarisi karakter etnik masing-masing Bertahun tahun sejak dari usia balita, generasi mudanya kurang akrab dari pengaruh jenis musik anti distorsi ini. Terbentuknya kerangka musik dengan ketukan 4/4 serta penggunaan 'nada mudah ditebak' memang berasal dari lagu irama pop yang benar-benar pop di pasaran (Pop artinya populer-red). 

Berbeda dengan Brazil dan Portugis dimana musik etnik tradisionalnya berbaur menjadi samba, di negeri ini  pengaruh musik tradisionalnya masih lekat terasa. Dangdut misalnya, musik yang berasal dari campuran Gambus melayu, timur tengah dan India ini masih menjadi lagu nina bobok dan penghibur saat kerja pada umumnya di masyarakat marginal kita. Cengkoknya pun hampir sama dengan gaya mengaji yang terdengar lebih akrab di telinga sebagian masyarakat. 

Bukan hanya dangdut, musik keroncong dan musik etnik tradisional lain yang menggunakan tangga nada pelog dan slendro juga masih sering dinikmati. Padahal seperti kita ketahui musik etnik tidak selamamnya anti dari Jazz. Musik ini juga bisa dilebur secara apik, coba lihat Grup musik Krakatau, Karimata atau Gitaris jenius bergaya tapping, Balawan. Etnic Jazz nya sangat brillian!  

Kedua, adalah wawasan dan edukasi. Kebanyakan masyarakat pecinta jazz pada awalnya juga terpengaruh dari tempat mereka belajar musik. Jika teknik bermusik semakin advance, kecenderungan untuk memakainya di lagu-lagu pop, rock atau dangdut sangat tidak sesuai, kecuali aliran progressive. Untuk belajar di lembaga kursus musik saja, orang tua harus menyiapkan dana paling tidak Rp250 ribu rupiah untuk uang pendaftaran dan Rp200 ribu rupiah untuk bulanannya. Untuk sebagian besar masyarakat di Cengkareng, dana sebesar itu lebih baik digunakan untuk mengirimkan anak-anaknya ke bimbingan belajar atau ditabung daripada hanya untuk sekedar belajar musik.

Ketiga, bagi anak muda yang pada usianya memang sedang bergejolak, memberontak, dan sedang mencari identitas diri, musik hingar bingar berirama cepat memang terasa lebih cocok, sehingga musik rock yang kaya distorsi jauh lebih ganas penyebarannya di Cengkareng. 

Pesimis? tentu tidak. Cukup banyak warga Komunitas Cengkareng yang beraktivitas di luar daerahnya, dari bekerja sebagai karyawan perusahaan di pusat bisnis Jakarta, menuntut ilmu di Universitas terkemuka dan lain sebagainya. Mereka ini sangat rentan menjadi pembawa wabah virus Jazz ke daerahnya. Pengaruh pergaulan dan Gaya hidup di lingkungan kerja menjadi faktor utama, paling tidak musik Acid Jazz yang disebut sebagai Jazz sampah oleh pecinta hardcore Jazz sejati ini banyak di mainkan di club-club pusat kota.     

Jika teman-teman ingin mengenal dan ingin menambah wawasan jenis musik ini, kita dapat ikut mencoba melihat komunitas Jazz sekitar kita, yaitu Jajan Jazz di BSD Serpong dan Komunitas Jazz Kemayoran. Komunitas Jazz Kemayoran yang disingkat KJK ini secara rutin perform di Food Court Selera Nusantara milik Tantowi Yahya di Jacc. Walau namanya berbau geografis, komunitas ini terbuka bagi semua pecinta Jazz di manapun Anda berada. Selain hadir di panggung Jazz, mencoba mendengarkan stasiun radio Jazz dan mencoba untuk membeli koleksi CD Jazz ringan pun bisa menjadi awal yang baik. 

Jika sudah dikenal, siapa tahu suatu saat nanti ternyata komunitas Jazz bisa lebih jauh berkembang di sini :)

 

     

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.21 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Saturday, 19 April 2008 00:30 )  
Banner