Di tengah pembajakan musik yang semakin marak di tanah Air (salah satu yang terbesar di dunia), industri musik terlihat tetap exist dengan lahirnya band-band dengan wajah baru. Mereka tampil dengan berbagai karakter dan penampilan yang berbeda-beda, tergantung warna musik dan genre-nya masing-masing. Instrumen musik yang umum digunakan biasanya adalah gitar, bas, keyboard / piano dan drum. Dengan perangkat seperti ini bisa keluar banyak sekali bunyi indah dengan warna yang berbeda.
Pada akhir 90-an kita bisa melihat dimana penikmat musik sudah jenuh dengan band dengan suara berisik dan terlalu banyak bunyi. Musik yang diusung malah semakin minimalis. Sebut saja Cardigans, King of Convenience, Frente, atau dari grup musik lokal adalah seperi Mocca dan White shoes and couples companies. Gitar bolong (akustik –red), bas, dan drum dianggap cukup mampu mengusung musik indah. Ditambah lagi trend musik unplugged (musik yang menggunakan perangkat akustik-red) sedang mewabah.
Dalam musik yang minimalis, warna suara menjadi sangat penting. Band-band pada umumnya mengandalkan kekuatan di karakter suara di vokalisnya. Vokalis yang bersuara unik tidak butuh intrumen musik pendukung yang rumit. Toh, tinggal diiringi suara gitar pun sudah jadi. Coba lihat Iwan Fals, Ebiet G. Ade, Chrisye, Vina Panduwinata, Once, Ari Lasso dan masih banyak lagi. Mereka menggumam pun sudah terdengar karakternya, apalagi bersenandung. Masalahnya tidak mudah mencari vokalis yang berkarakter, sehingga band-band mencari karakter di bagian lain, yaitu di instrumen musiknya.
Jika kita melihat instrumen yang umum ada, gitar dan keyboard adalah instrumen yang paling mudah digali warnanya karena dengan bantuan efek analogue ataupun digital, suara helikopter hingga suara gunung meletus pun bisa dikeluarkan sesuai kebutuhan. Bass dan drum sebenarnya juga bisa dicari suara karakternya, tetapi kebanyakan band membuat karakter dari teknik permainan, bukan suaranya. Untuk lebih memperkaya lagu, alat musik gesek seperti biola lebih banyak digunakan. Mungkin agar lebih mirip orchestra atau lebih terasa menyentuh emosi. Kecuali musik Ska, jarang sekali band yang menggunakan alat tiup di genre rock. Mengapa demikian?
Sebelum lebih jauh, mungkin kita perlu mengenal apa saja sih alat tiup itu? Sebenarnya ada dua jenis alat tiup, yaitu Woodwind dan Brass. Yang termasuk dalam kategori woodwind adalah saxophone, clarinet dan flute. Jika flute tidak membutuhkan alat bantu dalam menghasilkan suara, saxophone dan clarinet membutuhkan selembar atau sepotong kayu tipis yang disebut reed ( baca: rid ) yang akan bergetar menghasilkan suara ketika instrumen ditiup. Jenis-jenis saxophone pun beragam tergantung kebutuhan range nadanya. Ada alto sax, sopran, tenor, baritone dan lain-lain. Clarinet juga memiliki beberapa jenis, seperti bass clarinet, alto clarinet dll. Bagaimana dengan Flute? Sama seperti woodwind instrument yang lain, flute juga beragam jenisnya, ada c –flute, alto flute dan bass flute.
Brass instrument adalah instrumen yang dibunyikan dengan getaran bibir, yaitu mirip seperti ketika mulut kita meniru suara gas dari dubur alias kentut. Instrumen dari jenis ini adalah trompet, trombone, tuba, horn, flugelhorn, mellophone dll. Karena tombol nada yang sedikit, cara memainkannya pun tidak mudah. Jika di woodwind banyak katup untuk memainkan nada, di brass paling hanya berjumlah 3-4 saja. Di terompet, nada do dan sol memiliki posisi jari yang sama. Lho, jadi bagaimana cara membedakannya? Ya dari kekuatan tiupan udara yang berasal dari perut. Makanya pemusik yang baru belajar alat ini sering kali dimusuhi keluarga karena jika tidak berada di ruangan kedap suara, bunyi suara fals akan sangat mengganggu. Instrumen yang sering digunakan di Marchinig Band ini memang kurang populer di genre pop dan rock, tapi di musik jazz, instrumen ini seringkali menjadi primadona.
Menurut pengamatan CENGKARENG.INFO, Jarang sekali rock band yang menggunakan alat tiup karena karakter suara woodwind yang ’menurut ahli’ berada di luar pakem musik rock yang hingar bingar dan jauh dari kesan romantis. ’Alat tiup adalah milik klasik atau jazz’ juga adalah opini di sekitar kita. Jika alat musik gesek seperti biola sangat mudah dikawinkan dengan rock atau heavy metal, tidak begitu nasibnya dengan wind instrument. ’Tidak nyambung samasekali’.
Sebenarnya sudah cukup banyak rock band mancanegara yang menggunakan alat tiup, apalagi pada era kejayaan progressive di era 70-an. Dalam genre rock non progressive, group musik Chicago adalah salah satu yang terkenal dalam mempopulerkan brass section. Matchbox20 dan Dave Mathews Band adalah contoh yang sukses pada era berikutnya.
Sebenarnya, alergi kah suara distorsi gitar rock dengan alat tiup? Tentu tidak. Banyak sekali band rock yang memasukkan alat tiup di lagunya, sebut saja dari group heavy metal 80-an seperti Extreme hingga progressive metal sekelas Dream Theater. Memang mereka tidak memiliki pemain alat tiup khusus sebagai anggota resmi di dalam band, sehingga porsinya diambil alih oleh additional player atau bintang tamu. Di tanah air sendiri, band-band yang sedang populer terlihat sedang mengeksplorasi lebh jauh dengan paduan alat tiup. Sheila On 7 adalah salah satu contoh.
Apakah alat tiup hanya milik jazz, reggae, ska atau klasik saja? Atau ada yang benar-benar berani ingin membuat karakter baru seperti Matchbox20 dan Dave Mathews Band? Di tengah kerumunanan band pendatang baru yang umumnya memiliki karakter musik tidak jauh berbeda, pastinya band yang paling unik yang nantinya akan menonjol, entah dari kostum, suara vokalis, ataupun suara alat musik yang digunakan. Jika ingin beda, coba tambahkan alat tiup di lagu Anda. Nuansa berbeda akan didapat. Jadi, nge-rock dengan alat tiup? Mengapa Tidak!
| Comments |
|



