Bab IV Tertib
Bang Ali : Ada budaya yang sangat mencolok di daerah yang maju peradabannya
Ahmad : Budaya apa Bang?
Bang Ali : Budaya tertib. Semakin tertib suatu masyarakat, maka semakin mudah dan cepat perjalanan untuk mencapai kemakmuran, sebaliknya semakin tidak teratur masyarakat, akan semakin berat untuk menuju kemakmuran
Ahmad : Sekali lagi paradigma saya terbalik Bang. Saya pikir jika suatu daerah sudah kaya atau makmur, mengaturnya jauh lebih mudah. Ternyata terbalik ya bang.Bang Ali : Betul. Tertib itu budaya. Kita sendiri yang cinta akan budaya tidak tertib, sehingga orang yang tertib dikucilkan dan frustasi sehingga nantinya terdorong untuk ikut-ikutan tidak tertib. Coba kita lihat contoh sehari-hari. Misalnya saja budaya antri. Ini kelihatannya sangat sepele, tetapi sangat jarang dipraktekkan. Antri itu sebenarnya kita menghargai hak orang lain yaitu waktu. Hak waktu sangatlah tidak ternilai. Di dalam antrian di loket pembayaran, ATM, menunggu kendaraan umum atau taksi, menunggu di depan pintu lift , di tengah kepadatan lalu lintas terlihat beda negara terbelakang atau miskin dengan negara maju. Di daerah yang pendidikannya tinggi, masyarakatnya sangat menghargai antrian. Siapa yang terlebih dahulu diberikan hak lebih dahulu. Tidak ada itu yang namanya menyerobot.
Coba, berapa kali aparat kepolisian di daerah Anda mendapatkan pengendara sepeda motor tidak memakai helm, tidak membawa surat-surat? Berapa banyak bangunan yang tidak memiliki ijin didirikan? Berapa sering ketua RT menegur warga yang tidak memiliki KTP? Berapa sering pengemudi angkutan umum menaikkan dan menurunkan penumpang tidak pada tempatnya? Jika kita ingin daerah kita sejahtera dan maju, kita harus ikuti peraturan. Mengapa susah sekali daerah Anda untuk kaya dan maju, ya karena budaya tidak tertib sudah mendarah daging secara turun temurun ada di masyarakat.
Ahmad : Ternyata segitu pentingnya ya Bang, budaya tertib itu dipelihara? Karena itu adalah salah satu modal untuk mencapai kemakmuran?
Bang Ali : Betul sekali. Kita kembali ke lingkaran setan tadi. Karena masyarakat miskin, mereka sangat sulit mencari uang. Waktu dan tenaga habis dan ditambah pendidikan yang terbatas, boro-boro waktu mereka disediakan untuk menanamkan budaya disiplin di rumah.
Ahmad : Di sekolah kan mereka juga diajarkan untuk disiplin Bang
Bang Ali : Lingkungan yang paling sempurna untuk mendidik anak adalah di lingkungan rumah tangga. Di sekolah pada umumnya hanya faktor mengajarnya yang dominan, bukan mendidik. Jika di lingkungan rumah tangga mereka diajarkan budaya tertib, seperti bangun tidur pada waktunya, membantu ibu dan belajar sesuai aturan yang ditentukan bersama, buang sampah di tempatnya, dan lain sebagainya maka mereka akan terbiasa tertib hingga besar nanti dan diharapkan bisa mendarah daging.
Ahmad : Kadang menanamkan budaya tertib itu susah Bang, kalau masyarakatnya bandel repot juga. Kadang harus pakai kekerasan agar tertib
Bang Ali : Sebenarnya mendidik untuk tertib tidak butuh kekerasan sama sekali. Malah jika kita gunakan kekerasan, budaya ketertiban tidak akan terasa langgeng atau awet. Hanya sementara saja. Coba Anda lihat kasus penertiban paksa oleh aparat. Berapa lama kemudian pasti tidak tertib lagi. Berikan masyarakat Anda pengertian akan arti pentingnya ketertiban. Jelaskan mengapa kita butuh ketertiban.
Ahmad : Tetapi jika mereka tetap tidak mengerti ya repot juga ya Bang?
Bang Ali : Itulah, mengapa kita kembali lagi ke faktor pendidikan. Orang yang terdidik itu cenderung untuk tertib.
Ahmad : Lingkaran setan lagi ya Bang, ketertiban masyarakat yang rendah disebabkan karena pendidikan yang rendah, yang disebabkan juga karena kemiskinan. Muter-muter terus.
Bang Ali : Kamu ingat suasana kerja kantor kamu?
Ahmad : Iya Bang, memangnya kenapa Bang?
Bang Ali : Di kantor kamu, pimpinannya sayang dengan karyawan seperti apa?
Ahmad : mmmm ya yang patuh Bang. Tidak melanggar peraturan perusahaan, tidak pernah datang terlambat, selalu tepat waktu jika diberikan pekerjaan.
Bang Ali : Lalu nasib karyawan seperti itu bagaimana?
Ahmad : Ya cepat berkembang karirnya Bang. Gajinya pun meningkat pesat.
Bang Ali : Jelas. Orang seperti itu jarang ada di masyarakat yang terbelakang. Padahal orang yang tertib seperti gambaran Anda tadi, selalu dicari perusahaan, karena produktivitas perusahaan akan semakin tinggi. Begitupun daerah Anda. Daerah Anda akan semakin produktif jika masyarakatnya tertib. Jika semua warga bisa diatur, tidak akan ada yang namanya kekacauan, konflik, dan hal yang mengganggu lainnya. Jika masyarakat Anda produktif, kemakmuran tinggal di depan mata.
Bang Ali : Ada satu faktor penting lagi.
Ahmad : Apa tu Bang?
Bang Ali : Terbuka dan berfikir global
Ahmad : Apa maksudnya Bang?
Bang Ali : Terbuka artinya adalah kita terbuka bagi lingkungan luar. Pintu gerbang kita buka selebar-lebarnya
Ahmad : Wah, kalau begitu segala pengaruh buruk juga ikut masuk dong Bang Bang Ali : Maksud saya adalah kita terbuka akan segala kemungkinan investasi dari lingkungan luar. Kita menerima siapa saja yang ingin bersama-sama membangun daerah ini. Pengaruh yang buruk memang harus ada kontrolnya agar tidak bisa mudah masuk. Menutup diri hanya akan membawa kita kembali ke kemiskinan.
Ahmad : Secara teori itu mudah ya Bang untuk dilaksanakan. Tetapi biasanya orang yang sudah tinggal lama di sini merasa ada Ego yang sulit untuk menerima lingkungan baru.
Bang Ali : Sebenarnya setelah jaman prasejarah, Sejak jaman nabi Adam, manusia menjadi penghuni bumi. Mereka lalu berpencar-pencar menuju lokasi iklim dan lngkungan berbeda. Maka dari itu kita menjadi ras dan suku yang berbeda. Ada yang berkulit hitam. kuning, merah hingga putih. Bentuk wajah samapun bisa memiliki bahasa yang berbeda.
Jika kita ingin maju, lupakan itu yang namanya urusan SARA. Jika kita berfikir global atau mendunia, kita sadar pada hakekatnya, kita semua sama.
Di negara maju, kerukunan antar umat beragama begitu dipelihara. SARA adalah isu yang sangat sensitif. Di Negeri ini banyak gejolak yang bisa ditimbulkan karena faktor pendidikan. Semakin terdidik suatu masyarakat, semakin bisa kita pelihara lingkungan.
Ahmad : Benar-benar semakin terkait, kemiskinan, dan pendidikan. Bang Ali memang hebat.
[Dengan bangga, Ahmad berkata dengan sedikit memuji]
Bang Ali : Ah, Anda ini bisa aja. Berfikir global juga artinya kita harus siap bersaing secara global. Kemampuan kita berbahasa asing pun jika bisa diajarkan sejak dini. Jangankan beberapa suku yang menjadi pendatang di kawasan ini, tetapi juga dari bangsa lain. Warga negara asing juga bertempat tinggal dan berinvestasi di Cengkareng. Jika mereka berinvestasi, pastinya mereka akan membutuhkan tenaga kerja yang terampil.
Anda tahu hampir semua investor besar kita memiliki pabrik atau usaha di Negri Cina? Anda tahu pabrik prosesor besar ada di Kuala Lumpur? Anda tahu perusahaan Outsource terbesar berlokasi di India?
Ahmad : Waduh, saya baru tahu, Bang. Mengapa dunia barat melirik tempat tersebut untuk berinvestasi Bang? Ibukota negeri Jiran hebat juga ya Bang.
Bang Ali : Betul. Mereka sadar, dengan adanya investasi dari negara maju, roda prekonomian akan berputar kencang. Negara maju butuh ongkos produksi dan tenaga kerja yang cukup murah dibanding negara asalnya. Di negeri Jiran, mereka diberikan kepastian hukum dan keamanan, mereka senang karena tempatnya bersih, mereka senang karena tenaga kerja yang terampil (berpendidikan) ada di sana. Jangan lupa penduduk kota nya bisa berbahasa Inggris.
Ahmad : Cengkareng bisa begitu nggak ya Bang?
Bang Ali : Mengapa tidak? Saat ini pun sudah beberapa perusahaan internasional memiliki aset di Cengkareng. Cargo, pergudangan, Industri kimia dan lain sebagainya. Jika masyarakat kita terampil dan terdidik, bukannya tidak mungkin perusahaan hardware atau software juga akan berinvestasi di sini. Di banding lokasi lain di Ibukota, daerah Cengkareng masih lebih murah. Harusnya itu menjadi kelebihan
Ahmad : Berfikir global selain tidak berfikir SARA dan berbahasa asing apa lagi ya Bang?
Bang Ali : Wawasan internasional. Paling tidak pengetahuan umum kita harus luas.
Ahmad : Bagaimana caranya Bang?
Bang Ali : Banyak baca. Apesnya bangsa kita adalah media elektronik seperti televisi sudah mewabah di hampir semua rumah tangga. Rumah miskin di kolong jembatan tidak masalah jika tidak mempunyai tempat tidur atau kursi. Yang penting harus ada televisi. Padahal orang sukses dan kaya jarang sekali menonton televisi.
Ahmad : Oh, ya?
Bang Ali : Seorang dari Pasar Modal Amerika mengaku selama 20 tahun tidak menonton televisi.
Ahmad : Wow! Lalu apa saja kegiatan luangnya?
Bang Ali : Mereka membaca. Televisi yang di tonton adalah sebatas berita saja. Jika ingin menikmati film mereka ke Bioskop, itu juga jarang sekali. Menikmati novel lebih menarik bagi sebagian orang. Paling tidak kita harus membaca surat kabar setiap harinya. Surat kabarnya pun harus yang bermutu, yang tidak bermuatan gosip saja isinya.
Ahmad : Bagaimana jika kita ingin membaca berita tetapi tidak punya uang untuk membeli surat kabar?
Bang Ali : Kita bisa membaca dari internet. Hampir semua surat kabar nasional memiliki situs. Juga situs berita di tanah air juga banyak yang handal dan terpercaya. Di warung kopi dan warung mie instan pun sekarang sudah banyak disediakan surat kabar atau biasa disebut koran. Jika terasa berat, satu koran kan bisa dibaca oleh banyak orang. Misalnya satu koran seharga seribu rupiah bisa di tanggung oleh sepuluh orang atau lebih. Satu pangkalan ojek satu koran, satu pos hansip satu koran, satu warung satu koran. Bahkan kalau mau satu RT bisa langganan lima koran berbeda yang dibaca semua warganya. Pokoknya asal ada informasi yang menambah wawasan. Jadikan membaca adalah suatu kebutuhan hidup seperti makan dan minum. Jika tidak makan beberapa hari saja kita bisa mati.
Jika budaya membaca sudah ada di masyarakat, mereka akan tambah wawasannya. Semakin tambah wawasan semakin jauh dari kemiskinan.
Ahmad : Berarti budaya membaca yang bisa membebaskan kita dari kemiskinan ya Bang?
[Ahmad berucap sambil mengambil pena untuk mencatat kata-kata yang diucapkannya sendiri]
Bang Ali : Betul. Dengan memiliki wawasan dan pengetahuan luas dan atau global kita akan mendapatkan nilai tambah. Jika mendapatkan nilai tambah, kita akan menjadi semakin percaya diri. Jika kita sudah yakin terhadap diri sendiri, maka pintu kesuksesan akan terbuka.
Sekarang Anda masih ada yang ingin ditanyakan? Mohon maaf waktu saya terbatas. Saya masih ada janji dengan wartawan media lain.
Ahmad : Saya rasa penjelasan Abang sudah panjang lebar. Saya sudah paham betul apa yang dibutuhkan oleh masyarakat kita agar lebih maju dan sejahtera. Beribu-ribu terimakasih Abang sudah menyediakan waktu buat saya. Saya bingung harus kasih apa nih untuk membalas kebaikan Abang.
Bang Ali : Saya minta satu permintaan saja buat Anda
Ahmad : Apa itu Bang? Saya akan memenuhi apabila saya sanggup.
Bang Ali : Tolong sebarluaskan apa yang saya sampaikan tadi. Semakin banyak orang yang paham akan isi cerita saya, mudah-mudahan semakin maju masyarakat kita
Ahmad : Beres Bang! Tidak usah khawatir. Saya akan jalankan amanat Abang.
Bang Ali : Semoga sukses dan sampai berjumpa di lain waktu, Assalamu’alaikum
Ahmad : Wa’alaikum salam. Sekali lagi terimakasih Bang.
[Ahmad menutup wawancara dengan tokoh kita Bang Ali. Walau hanya dalam waktu singkat, tetapi pesan yang disampaikan sangat dalam. Memang membunuh kemiskinan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh usaha dari masyarakat dan yang terpenting individunya ingin berubah untuk lebih baik. Masyarakatnya harus lebih senang membaca dan terus belajar. Masyarakatnya harus bisa menjaga kejujuran dan sanggup mengemban amanat serta tanggunjawab. Masyarakatnya harus bisa menjaga lingkungan agar selalu bersih dan aman. Berfikir bahwa kita adalah bagian dari warga dunia. Perluas wawasan kita agar bisa bersaing. Semoga tulisan singkat ini bisa berguna bagi pembaca sekalian. Mari tetap berupaya untuk menciptakan Cengkareng yang lebih baik untuk anak cucu kita kelak.]
[Sekian dan Tamat]
| Comments |
|



