BAB I Investasi Paling Berharga
Setelah beberapa tahun mencari solusi bagaimana caranya agar Cengkareng menjadi lebih makmur sejahtera, CENGKARENG.INFO akhirnya mendapat rekomendasi untuk mewawancarai Bang Ali, salah satu dosen kondang di Tanah Air, untuk segera mendapatkan obat mujarabnya. Berikut cuplikan wawancara reporter kami dari CENGKARENG.INFO yang bernama Ahmad dengan Bang Ali.
Setelah dipersilahkan masuk, Bang Ali menerima Ahmad dengan senyum ramahnya.
Bang Ali : Ayo silakan... jangan sungkan-sungkan..mari masuk, anggap rumah sendiri
Ahmad : Terimakasih Bang. Bagaimana khabarnya Bang Ali? sehat kah?
Bang Ali : Syukurlah, saya sehat-sehat saja di sini. Bagaimana keadaan Anda?
Ahmad : Saya baik-baik saja Bang, tapi saya sebenarnya ada perlu dengan Bang Ali. Ini menyangkut kehidupan dan kesejahteraan wilayah kami di Cengkareng.
Bang Ali : Ooo ya.. Ada apa dengan Cengkareng?
Ahmad : Begini Bang..sebenarnya saya ada perlu sedikit . Rada gak enak nih ngomongnya
Bang Ali : Lho..silakan ngomong aja, nggak usah sungkan-sungkan
Ahmad : Mmmm kami ingin mencari solusi tepat bagaimana kami bisa menghapuskan kemiskinan di daerah kami Bang. Kami lihat daerah lain di Jakarta koq terasa lebih pesat perkembangannya,
padahal Cengkareng lebih dahulu menjadi kawasan pemukiman. Daerah lain masih hutan pada saat itu.
[Bang Ali mengangguk-angukkan kepalanya sedikit sambil menjawab]
Bang Ali : Memang hal sepertinya ini adalah masalah klasik di tanah Air pada umumnya ya. Hanya saja ini adalah sebagian dari komunitas Ibukota yang sedang butuh solusi.
Ahmad : Betul Bang, solusi singkat. Kata lainnya obat mujarab Bang
Bang Ali : Ya, memang secara teori sudah tertulis, sebenarnya tidak ada hubungannya antara umur suatu daerah dibangun dengan faktor kemakmuran. Coba saja lihat daerah pemukiman baru di sekitar Jakarta, dimana lima tahun lalu masih berupa kebun, sawah terlantar sekarang sudah menjadi area pemukiman yang sangat maju. Infrastruktur bagus, fasilitas untuk warga apalagi, terawat baik.
Ahmad : Tapi kan itu Bang, hasil bentukan dari developer besar dan harga nya pasti mahal. Pasti mereka punya cukup uang untuk itu.
Bang Ali : Untuk apa maksudmu?
[Dengan nada bingung, Bang Ali balik bertanya]
Ahmad : Ya untuk membangun lingkungan ideal. Jika ada uang ya gampang saja kita bentuk lingkungan semau kita
Bang Ali : Nah itu adalah pemikiran yang keliru. Kebanyakan orang beranggapan untuk berkembang menjadi lebih baik selalu dengan uang
Ahmad : Lho, bukannya begitu Bang?
Bang Ali : Tidak selamanya seperti itu. Memang materi kadang dibutuhkan,tetapi ada satu hal penting yang sangat menentukan suatu daerah bisa keluar dari kemiskinan
Ahmad : Apa itu Bang?
[Ahmad memang tidak sabar untuk mendengar kata-kata sakti Bang Ali]
Bang Ali : yaitu Niat dan tekad
[Karena berfikir langsung mendapat jawaban sakti, dengan raut wajah sedikit kecewa, Ahmad
membalas]
Ahmad : Wah bang, kirain apa. Kalo niat gak ada duit mah percuma, Bang.
[Bang Ali sedikit tersenyum mendengar response tadi]
Bang Ali : Segala sesuatu itu tergantung dari niat atau tekad. Jika tekad sudah bulat, apapun kendala pasti bisa diatasi.
Ahmad : Maaf Bang, menurut kami itu hanya teori
Bang Ali : Baiklah. Sekarang apa kalian punya modal? bisa mendatangkan modal untuk mengentaskan kemiskinan?
[Ahmad dengan sedikit tersipu malu di wajah menjawab]
Ahmad : Ya boro-boro Bang. Kalo punya ngapain kami minta obat mujarab sama Abang
[Bang Ali tersenyum, koq kesannya beliau tiba-tiba menjadi paranormal atau tabib alternatif]
Bang Ali : Maka dari itu, semuanya dimulai dengan niat untuk makmur. Untuk sejahtera. Untuk kaya. Tekad dan niat ini jika benar-benar dijalankan maka pasti bisa.
[Dengan bayangan yang masih sedikit abstrak, Ahmad mencoba untuk menelan perkataan Bang Ali]
Bang Ali : Sudah paham belum? jika sudah saya akan lanjut.
[Dengan masih hausnya akan bukti nyata, Ahmad merasa tidak perlu me-response banyak]
Ahmad : Silakan lanjut Bang. Nanti saya bisa tanya lagi kan?
Bang Ali : Ya tentu saja. Anda pernah dengar 'Vicious circle of poverty'?
Ahmad : Wah apa itu Bang? yang saya tahu cuma circle itu artinya lingkaran. Maaf bahasa Inggris saya rada lemah
[Lagi-lagi Bang Ali tersenyum, sambil me-response]
Bang Ali : Vicious circle of poverty itu jika diterjemahkan ke bahasa yang mudah dimengerti adalah lingkaran setan kemiskinan. Vicious itu jahat, Poverty itu kemiskinan
[Ahmad mencoba untuk mencatat kata-kata tadi. ’Lingkaran setan kemiskinan’]
Bang Ali : Anda tahu lingkaran setan itu apa?
[Bang Ali penasaran, mungkin ingin sedikit menguji intelektual kami]
Ahmad : Tahu dong Bang. Artinya ya hal buruk yang muter-muter gak ada habisnya. Tapi bagaimana lebih jelasnya lagi Bang?
[Ahmad sudah bersiap-siap untuk mencatat]
Bang Ali : Kemiskinan akan melahirkan apa coba? Anda tahu?
[Wah, sepertinya intelektualitas Ahmad merasa diuji kesekian kalinya]
Ahmad : Melahirkan apa ya bang? masih bingung nih.
Bang Ali : Baiklah, kata-katanya saya ganti, kemiskinan akan menghasilkan ?
Ahmad : Oh itu saya tahu... menghasilkan kekacauan, ketidakteraturan, gangguan keamanan. Benar kan Bang?
[Ahmad duduknya sedikit tegak, membanggakan diri]
Bang Ali : Itu benar, tetap ada yang lebih mendasar.
Ahmad : Apa itu Bang?
Bang Ali : Kemiskinan akan menghasilkan kebodohan.
[Ahmad tampak sedikit terperanjat sambil tetap antusias mendengarkan pertanyaan Bang Ali berikut]
Bang Ali : Dan kebodohan akan menghasilkan ?
[Ahmad berfikir sejenak dan menjawab]
Ahmad : kemiskinan!
[Ahmad merasa bangga akan jawabannya padahal yang namanya lingkaran setan ya (harusnya) tinggal dibalik saja,kan. Lalu Ahmad sedikit merenung dengan kata-kata bang Ali tadi. Jika adanya kebodohan, pasti orang tidak akan punya dasar pendidikan untuk bekerja lebih layak, atau mencoba berwiraswasta. Profesi apapun di Ibukota kini harus dibekali dengan dasar pendidikan yang lumayan. Lulusan Sekolah dasar bisa jadi apa, lha wong lulusan sarjana pun banyak menganggur. Nah jika mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan layak dengan gaji cukup berarti akan membawa ke kemiskinan. Lalu, jika tidak punya bekal materi, boro-boro mengirimkan anaknya ke lembaga pendidikan lebih tinggi, urusan makan sehari-hari saja tidak cukup. Dengan begitu, dari kemiskinan alurnya kembali lagi ke kebodohan]
Ahmad : ya sekarang saya cukup paham
Bang Ali : Nah kalau begitu apanya yang bisa dibenahi dulu? kemiskinannya atau kebodohannya?
Ahmad : Menurut saya Bang, itu seperti 'ayam dan telur' mana yang duluan? Bingung nih.
Bang Ali : Baiklah, kalau kemiskinannya kita benahi, bagaimana solusi nyatanya?
Ahmad : Berikan kami modal. Kami akan gunakan itu untuk membangun daerah kami Bang. Tanpa modal atau uang kita gak bisa apa-apa kan Bang?
[Ahmad menjawab dengan dana yang sedikit bersemangat]
Bang Ali : Salah ! Bukan itu.
[Ahmad kaget akan response Bang Ali yang kontradiktif akan idenya]
Ahmad : Lho, Bang? bukannya duit itu segalanya?
Bang Ali : Begini, duit bukan solusi utama. Itu hanya pendukung saja.
[Ahmad mengerutkan dahinya sedikit]
Bang Ali : Jika misalnya Anda memiliki anak berusia sekolah dasar, misalnya berusia tujuh tahun. Inginkah Anda memberikan padanya uang untuk modal berusaha?
Ahmad : Untuk usaha apa dulu Bang, kalau sederhana saja misalnya jual pisang goreng atau jepit rambut sih bisa aja. Tapi....
Bang Ali : Gimana? tidak bisa diandalkan secara serius toh? Karena apa?
Ahmad : Saya kira karena dia belum siap, Bang. Belum cukup umurnya
Bang Ali : Bukan umur! tetapi skill (keterampilan) dan pendidikannya belum cukup. Ini sama saja dengan komunitas Anda yang jika tidak diberikan keahlian untuk mengelola uang, berapapun dana yang diberikan, ya pasti akan habis. Mau seratus juta? satu milyar? tinggal tunggu waktu saja. Percuma.
Ahmad : Jadi? jika bukan itu apa solusinya
[Ahmad bersiap-siap untuk mencatat kata sakti yang akan keluar]
Bang Ali : Obat paling majur dari segala obat yang beredar di bumi ini untuk membunuh kemiskinan adalah pendidikan!
[Ahmad menjawab dengan nada lesu]
Ahmad : Tapi Bang Ali, maaf nih kalo bicara soal pendidikan kan ujung-ujungnya ke duit lagi. Tetangga saya memasukkan anaknya sekolah saja biaya masuknya 25 juta dan uang bulanannya 2 jutaan sebulan. Kursus komputer, bahasa inggris, musik dan menggambar pun mana ada yang murah? paling tidak gaji sebulan bisa habis. Kita terjebak, dong Bang?
[Bang Ali mengubah posisi duduknya sedikit]
Bang Ali : Asal ada niat, pasti ada jalan keluar. Niat ini juga berasal dari masyarakat dan pemerintah daerah itu sendiri. Niatkah mereka membebaskan daerahnya dengan pendidikan?
[Ahmad menatap Bang Ali dengan raut muka sedikit bingung]
Bang Ali : Yang saya dengar, pemerintah kini sudah mencoba memfasilitasi pendidikan di daerah-daerah termasuk Cengkareng. Di kelurahan dan kecamatan sudah di programkan pelatihan keterampilan khusus seperti merangkai bunga, membuat kue dan otak atik mesin misalnya.
[Ahmad kaget dan bertanya]
Ahmad : Lho, apakah sudah berjalan?
Bang Ali : Saya tidak paham detilnya karena sudah tidak mengikuti perkembangan daerah Anda. Memang program seperti itu membutuhkan dana dari pemerintah. Tempat, waktu dan pengajar itu kan masuk komponen biaya. Memang harus ada yang menanggung. Jadi memang tidak sesederhana itu.
Ahmad : Lalu?
Bang Ali : Sekarang kita lihat dari sisi lainnya. Niatkah masyarakatmu belajar? Ingat, belajar itu butuh pengorbanan.
Pasti tambah susah karena butuh upaya lebih dari yang biasanya. Orang yang biasa tidur bermalas -malasan, sekarang disuruh tambah susah. Untuk kembali belajar.
[Ahmad tercengang. antara bingung dan paham]
Ahmad : Wah, memang tidak mudah ya Bang. Lha wong biasa enak nongkrong-nongkrong, ini disuruh belajar lagi. Pusing lagi. Mana mau mereka? Kalo belajar lagi apa ada tes kompetensinya kan? ada ujiannya? Seperti di sekolah gitu?
Bang Ali : Secara formal atau tidak, pasti kompetensi harus terukur. Mereka mau disiapkan skill untuk mengelola atau mengembangbiakkan uang, koq. Tapi lucunya banyak orang tidak bersedia, malas atau bilang tidak sanggup. Padahal itu adalah salah satu obat mujarab untuk keluar dari kemiskinan.
Ahmad : Iya bang, ternyata duit bukan solusi utama, tetapi bakal datang jika kita punya keahlian
Bang Ali : Betul.
[Bang Ali menepuk pundak Ahmad dengan bangga. Lalu Bang Ali menambahkan]
Bang Ali : Cara berpikir tradisional juga masih lekat di masyarakat Anda. Misalnya jika ada uang lebih atau warisan atau apalah. Mereka tidak menggunakannya untuk invesasi di otak.
Ahmad : Investasi di otak?
Bang Ali : Ya, dengan pendidikan. Otak adalah alat paling vital dan bisa kita anggap sebagai aset paling utama. Bayangkan jika ada musibah, rumah habis terbakar, segala uang tabungan di bank atau di laci di bobol orang, usaha ditipu, dengan otak kita bisa ciptakan lagi uang itu. Maka dari itu sangat berharga sekali otak kita itu.
[Ahmad mulai mencatat bahwa otak itu modal utama. Tanpa itu, berapapun modal yang akan diberikan bakal habis]
Ahmad : Tetapi Bang, kalau ngomong masalah pendidikan...mmmm...
Bang Ali : Ya ya saya ngerti maksud kamu
[Bang Ali menjawab dengan sedikit politis]
Bang Ali : Prioritas negeri ini mungkin sedang berbeda masalah pendidikan, atau ada program-program tertentu yang saya tidak begitu paham. Jika di negeri Jiran, India dan Taiwan berbondong-bondong warganya dikirim belajar ke luar negri, situasi dan problematikanya jauh berbeda dengan di sini. Kita pun sebenarnya bisa menyiasatinya koq
Ahmad : Gimana itu Bang
[Ahmad langsung menyambar]
Bang Ali : Sabar.. itu akan kita bahas di topik berikut. Sekarang mari kita bicara kualitas pendidikan itu sendiri di tengah masyarakat kamu.
Bang Ali : Begitu banyak lembaga-lembaga pendidikan yang tumbuh seperti jamur di musim hujan. Dari kursus keterampilan menjahit, kursus teknisi handphone, hingga kursus yang menjurus ke IT seperti kursus membuat program dan desain. Kampus-kampus perguruan tinggi pun berdiri untuk menyerap kebutuhan akan pendidikan. Tetapi masyarakat anda lupa sesuatu hal penting, yaitu kualitas pendidikan.
[Ahmad kembali langsung mengambil pena yang terselip di kantong untuk mencatat kata sakti berikutnya] Ahmad : Kualitas pendidikan. Betul sekali. Jika pendidikannya tidak bermutu bagaimana orang tadi bisa memiliki kompetensi sebagai modal berkarir dan berusaha. Tapi masyarakat yang mana? pengelola lembaga pendidikan?
Bang Ali : Bukan hanya dari sisi lembaga pendidikan. Orang yang belajar pun memiliki andil untuk merendahkan martabat pendidikan. Yaitu belajar hanya mengejar selembar ijazah saja. Seringkali mereka tidak mengerti apa artinya ijazah.
Ahmad : Lho Bang, bukannya semua orang tahu kalau ijazah itu adalah tanda kelulusan? bukannya kita kalau melamar ke perusahaan harus melampirkan ijazah?
Bang Ali : Betul. Tetapi ijazah atau sertifikat saja tidak cukup. Ijazah atau sertifikat kan menggambarkan parameter keahlian dan keterampilan pada saat itu dibuat. Seharusnya tidak berlaku selamanya. Keahlian yang ter-update jauh lebih penting. Kompetensi lebih tepatnya.
Ahmad : Apa tu bedanya Bang? Keahlian dan Kompetensi?
Bang Ali : Keahlian atau biasa di sebut Skill itu adalah bagian dari kompetensi. Kompetensi dibagi menjadi tiga faktor, keahlian, wawasan (pengetahuan) dan terakhir adalah pemahaman. Jika kita hanya tahu skill tapi pemahamannya kurang, ya berarti kompetensi kita berkurang.
Ahmad : Memang benar, Bang. Ijazah saya ya dari dulu seperti itu- itu saja padahal ilmu pengetahuan berkembang terus. Sertifikat seharusnya diberi jangka waktu ya. Siapa tahu keahlian itu tidak terpakai lagi. Saya juga ingat, saya masih memiliki sertifikat kursus komputer dengan menggunakan sistem operasi Dos dan WordStar di sekitar awal tahun 90-an. Sekarang sertifikat itu tidak ada artinya samasekali.
Bang Ali : Betul, fokus ke kualitas. Jangan hanya cari selembar ijazah atau sertifikat. Umumnya praktisi IT yang membanggakan di tanah air tidak punya banyak sertifikat. Mereka fokus ke skill yang terus diasah. Sertifikatnya, jika adapun memiliki jangka waktu berlaku.
Ahmad : Betul Bang. Kasihan orang jika sudah habis uang untuk mengirim anaknya belajar tapi kompetensi tidak dapat. Tidak bakal laku di dunia kerja
[Ahmad menjawab dengan miris. Mungkin ada sedikit pengalaman pribadi]
Ahmad : Berarti kualitas mengajar di masyarakat kami sedikit bermasalah ya Bang?
Bang Ali : Kadang-kadang seperti itu. Faktornya pun banyak. Dari fasilitasnya hingga yang terpenting, yaitu Sumber Daya Manusia atau SDM
Ahmad : SDM dalam mengajar?
Bang Ali : Ya, tepat sekali. SDM mengambil peranan yang amat sangat penting dalam mengajar. Mengajar itu butuh keahlian juga. Jika tidak ahli, ya tidak tertransfer ilmunya. Berapa banyak pengajar yang memang skill mengajarnya kurang sedikit terasah. Sehingga mengajar tidak lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi siswa. Bahkan cenderung membosankan.
[Ahmad kembali tidak lupa mencatat dan menambahkan]
Ahmad : Kesejahtraan guru bagaimana Bang? mungkin juga jika kebutuhan dan kesejahteraan mereka terpenuhi mungkin kualitas belajar akan semakin bagus
[Bang Ali tersenyum sedikit. Lagu lama mungkin pikirnya]
Bang Ali : Betul. Tetapi asal guru tadi terampil dalam transfer ilmu, ya harusnya mereka layak mendapat imbalan yang lebih baik. Pengajar handal pasti dipelihara dengan baik oleh lembaga pendidikan. Orang seperti itu selalu dicari orang, mana mungkin disia-siakan?
[Ahmad teringat akan tetangganya yang berprofesi sebagai guru tetapi menerima slip gaji sejumlah belasan juta rupiah perbulan di sekolah internasional. Sarapan di sekolahnya pun mungkin dengan susu dan Sandwich. Kualitas mengajarnya terbayang di kepala. Pasti bahasa Inggrisnya sudah fasih. Metode mengajarnya jauh dengan apa yang diterapkan di sekolah umum. Pendekatannya ke psikologi, bagaimana kita membayangkan menjadi anak didik atau memasuki kerangka pikir mereka,
Dengan segala keterbatasannya kita mencoba untuk mengerti.
Bukan sebaliknya, umumnya sudut pandang selalu datang dari sisi pendidik]
Bang Ali : Sampai di sini ada pertanyaan 'Ndak?
Ahmad : Insya Allah mengerti, Bang.
[Sejenak terdiam, Ahmad lanjut bertanya]
Ahmad : Bang, sebenarnya ada nggak sih media belajar yang murah. tapi kita bisa mendapatkan kompetensi. Maklumlah bang, sebisa mungkin tidak bayar.
Bang Ali : Ada. Nah ini ada kaitannya dengan menyiasati tantangan belajar itu butuh dana besar. Jaman saya dahulu ini belum ada. Makanya malu bener kalau keadaan Cengkareng tidak lebih baik dibanding jaman saya.
Ahmad : Apa tu Bang?
Bang Ali : Ya, teknologi internet. Kan internet bisa diakses dari warnet, sekolah atau rumah. Malahan jika suatu saat nanti teknologi nirkabel sudah maju, dari kolong jembatan pun kita bisa mengakses internet dengan bantuan Handphone atau komputer genggam.
Harga perjam warnet misalnya kan hanya berkisar antara Rp4.000,- hingga 5.000,- perjam. Tinggal ketik apa yang kita butuhkan atau pelajari di search engine macam google atau yahoo, beberapa detik kemudian akan keluar jawabannya di layar. Ingin mencari apapun semua tersedia, dari cara membuat martabak hingga pesawat luar angkasa. Makanya saya heran mengapa teknologi ini malah disalahgunakan. Lebih lagi ingin dibatasi. Sekarang internet bisa berbahaya jika kita mencari informasi tentang prosedur terorisme atau pornografi, tetapi untuk mendapatkan pendidikan singkat murah, ya ini dia solusinya.Dalam satu jam saja kita bisa ambil begitu banyak materi. Jika ingin lebih hemat, belajar tidak usah di depan komputer warnet. Tinggal cetak kita bisa membawa pulang untuk dibaca di rumah, atau jika tidak menyalahi undang-undang hak intelektual, kita tinggal salin ke media penyimpanan. segitu sederhananya!
Ahmad : bagaimana kita tahu materi yang ada di dalam internet itu bisa sah untuk disebarluaskan atau tidak?
Bang Ali : Kita bisa membacanya di Undang-undang yang bisa didapatkan salah satunya, ya di internet itu sendiri. Intinya kekayaan intelektual orang lain harus dihargai. Dalam membangun sebuah software misalnya, ada komponen biaya tertentu dan menjadi hak sang pembuat jika software tadi di komesialkan. Di negara maju, pembajakan hak intelektual bisa ditekan, di negara miskin, pembajakan merajalela. Jika kita ingin maju, hargai hak intelektual.
Ahmad : Itu termasuk industri musik ya Bang?
Bang Ali : Betul, industri perfilman, buku atau apapun yang menyangkut hak cipta. Industri ini akan menjadi sangat besar jika kita bisa menghargai hak keakayaan intelektual tadi.
[Ahmad tertegun dan kembali flash back mengingat ada rekan sekerjanya yang pernah membuat lagu untuk dikomersilkan. Biaya produksi sudah tidak terhitung keluar, seperti menyewa studio, alat musik, promosi dan lain lain. Setelah jadi, karya lagu tersebut dibajak orang. Begitu sedihnya dia]
Ahmad : Kembali ke masalah informasi untuk belajar tadi, Bang. Jika apapun tersedia di internet kita bisa belajar apapun yang kita ingin dong?
Bang Ali : Tentu bisa.
[Ahmad merenung kembali sejenak dan ingat akan salah seorang temannya pernah belajar membongkar tinta printer laser atau belajar memainkan alat musik tiup tidak menggunakan guru. Ratusan ribu bahkan jutaan video tutorial tentang bagaimana cara mereka memainkan instrumen terdapat di sana. tinggal klik, pengajar dari belahan dunia berbeda tampil di hadapan Anda. Merasa ada yang mengganjal Ahmad kembali bertanya dengan lugunya]
Ahmad : Bang, tetapi di internet banyak bahasa inggrisnya kan ya Bang. Gimana dong Bang?
[Bang Ali mengangkat alis]
Bang Ali : Bagaimana maksudmu? Tidak bisa berbahasa Inggris? ya itu lah tantangan Anda berikutnya. Faktor bahasa juga menjadi kendala. Nanti kita akan bahas di topik berikut, yaitu berfikir global. Tetapi tidak semua di internet berbahasa inggris, koq. Jika kita ke situs di taiwan ya akan tampilannya berbahasa cina, jika ke situs di arab, ya akan berbahasa arab, begitu pun dengan jepang dan korea. Jika komputernya support, tulisan keriting tadi akan tampil. Nah, di Tanah Air sendiri komunitas internet semakin banyak. Situs yang berbahasa Indoneisa pun bisa menjadikan kita sarana untuk belajar. Di Sekolah dasar hingga SMU diajarkan bahasa Inggris. Film di televisi berbahasa Inggris. Heran koq ngga' bisa-bisa belajar bahasa Inggris. Padahal jika ingin berlatih, di internet kita kan juga bisa chatting dengan orang yang berbahasa Inggris.
[Ahmad mengangguk-angguk tanda mengerti dan mencoba menarik kesimpulan. Jadi semuanya berkaitan. Investasi di otak atau pendidikan adalah investasi paling berharga dan paling utama.. Ini mencakup keinginan belajar dari masyarakat itu sendiri, kualitas SDM pendidik atau kualitas lembaga belajar yang tidak asal mencari keuntungan, adanya niat baik dari pemerintah menyelenggarakan workshop singkat gratis atau murah tentang keahlian yang dipakai di dunia dan lain sebagainya. Keinginan belajar masyarakat bisa didorong dengan menghilangkan budaya malas dan memiliki tekad sangat kuat untuk bebas dari lingkaran setan kemiskinan.]
[Bersambung.........]
| Comments |
|



