![]()
BAB II Jujur dan Tanggung Jawab
Ahmad : Berarti itu saja ya Bang obat mujarab agar wilayah kami keluar dari kemiskinan?
Bang Ali : Tunggu dulu. Ada hal lain yang tidak kalah penting. Tanpa ini faktor pendidikan tadi akan percuma
[Ahmad kaget sekaligus penasaran]
Ahmad : Wah, apa lagi itu Bang?
Bang Ali : Integritas, yang mencakup rasa tanggung jawab dan kejujuran
[Ahmad langsung berfikir, apakah rasa tanggung dan kejujuran ini menjadi faktor kita bebas dari kemiskinan? Apa hubungannya?]
Bang Ali : Saya tahu Anda pasti masih bingung. Begini ceritanya. Banyak sekali masyarakat kita takut yang namanya tanggungjawab. Malahan mereka ingin digaji kecil, bukan sebaliknya
Ahmad : Lho, Kalau saya sih inginnya digaji besar. Apa iya begitu Bang?
Bang Ali : Iya. Jika tanggungjawab kita kecil, gaji kita pasti kecil toh?
Ahmad : iya Bang.
Bang Ali : Begitupun sebaliknya, jika tanggungjawab kita besar, gaji kita pasti besar. Bayangkan profesi seperti Direktur perusahaan atau pilot pesawat terbang yang tanggungjawabnya begitu besar. Pasti dari segi penghasilan akan jauh berbeda dengan profesi lain seperti Office Boy di kantor yang tanggungjawabnya jauh lebih kecil. Nah, buruknya budaya di masyarakat kita adalah kalau bisa kita hindari tanggungjawab. Lempar ke orang lain kalau perlu. Bayangkan rejeki orang yang seperti itu yang selalu lari dari tanggung jawab.
Ahmad : Tapi Bang, jika kita mengambil tanggungjawab, bukannya bakal menambah perkara Bang?
Bang Ali : Justru sebaliknya. Jika orang lain biasa melempar tanggung jawab, kita harus berbeda. Kita bersedia menerima tanggungjawab. Jika kita bertanggungjawab, kita akan dipercaya orang. Jika kita dipercaya orang, rejeki akan mengalir. Dalam karir perusahaan, jabatan akan meningkat. Bangsa yang maju rakyatnya selalu tanggungjawab. Segala konsekuensi dia terima jika tidak berhasil. Tanggungjawab adalah kesempatan. Hindari tanggungjawab, hilang kesempatan.
Ahmad : Oooo begitu yah. benar juga. Selain tanggung jawab ada satu lagi apa tu Bang? Kejujuran?
Bang Ali : Tepat sekali!
Ahmad : Lho Bang, kali ini saya protes. Abang salah. Yang ada Bang, orang jujur pasti miskin. Coba lihat tetangga kita yang jujur itu. Hidupnya morat marit.
Bang Ali : Sekali lagi itu adalah persepsi yang amat keliru yang ada di masyarakat kita. Jika kita bekerja kalau perlu harus ada sabetan atau sampingan. Kalau bisa tipu dikit ya tahu sama tahu lah di dunia bisnis itu kan biasa. Sekali gebuk untung besar. Tidak ada usaha untuk membina hubungan jangka panjang. Ketidak jujuran bisa bermacam-macam bentuknya. Nah, yang berhubungan dengan materi, sering disebut juga Korupsi. Dan yang terpenting, jika kita mau kaya, kita harus basmi itu yang namanya Korupsi.
Ahmad : Oooo.. iya ya. Saya tidak sadar itu. Ketidakjujuran itu adalah sumber dari korupsi. Dan salah satu faktor mengapa bangsa ini belum kaya-kaya juga sejak merdeka adalah kita masih akrab dengan hal ini.Tapi bagaimana dengan kasus nyata tetangga saya yang jujur? Mengapa dia miskin?
Bang Ali : Oh ya saya lupa, dia miskin karena sistem yang kita ciptakan di lingkungan kita sendiri. Kita terdidik selama bertahun-tahun akrab dengan ketidakjujuran. Bikin itu nyogok, bikin ini nyogok. Alasannya adalah komisi proyek, tapi sebenarnya duit tutup mulut. Kita yang ciptakan, ya harusnya jika ingin lebiih baik kita yang harus mengubahnya.
Ahmad : Bagaimana caranya?
Bang Ali : Hargai kejujuran. Anda beragama?
Ahmad : Ya iyalah Bang.
Bang Ali : Lalu di jaman nabi dan sahabatnya, apakah mereka berbisnis dengan menipu?
Ahmad : Tentu tidak Bang. Mereka malah mengangkat kejujuran di dalam berdagang.
Bang Ali : Lalu, Anda tahu Samurai?
Ahmad : Tahu Bang, kebetulan saya suka sekali ceritanya. Mereka adalah ksatria pedang di jepang. Mereka memegang teguh pendirian dan harga diri.
Bang Ali : Bagaimana bangsa-bangsa itu sekarang?
Ahmad : Ya mereka adalah bangsa-bangsa maju dan kaya.
Bang Ali : Betul, karena mereka jujur.dan memegang teguh omongan atau janji
[Ahmad mengambil pena dan langsung mencatat. Kejujuran membawa kepercayaan dan kepercayaan akan membawa kita menuju kemakmuran. Budaya kita yang salah. Kita menghargai ketidakjujuran. Kita maklum adanya korupsi, kong kali kong atau apapun namanya. Orang yang tidak jujur begitu kayanya dengan korupsi dan yang jujur benar-benar dibuat miskin, karena mereka ingin tetap situasinya seperti itu. Jika keadaan dibalik, akan habis mereka dengan hartanya. Tugas kita mengubah budaya tidak jujur ini]
Ahmad : Tugas berat ya Bang, mengubah persepsi itu.
Bang Ali : Tidak. Samasekali tidak.
Ahmad : Lho bagaimana tidak berat? kita harus mengubah keadaan masyarakat kita? Bagaimana sih Abang?
[Bang Ali kembali menjawab dengan bijak]
Bang Ali : Ada sebuah sajak yang bercerita tentang bagaimana dia ingin mengubah dunia. Seberjalannya waktu dia merasa frustasi karena beban begitu beratnya. Lalu dia memutuskan untuk mengubah negrinya saja. Tetapi semakin lanjut usianya dia semakin frustasi karena keadaan masih tetap sama, hingga dia memutuskan untuk mengubah keluarganya. Itu pun dia sangat kecewa karena keadaan masih tetap sama hingga pada saat menjelang ajal dia sadar, "Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku maka
dengan menjadikan diriku sebagai panutan mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka bisa jadi akupun mampu memperbaiki negeriku kemudian siapa tahu aku bahkan mengubah dunia !"
JIka kita ingin mengubah lingkungan sekitar, Mulailah dari kita sendiri. Jadikan diri kita orang yang jujur, tanggungjawab dan bisa dipercaya orang. Tepati janji! jangan ngaret. Janji jam sembilan, datang setengah jam sebelumnya. Janji barang bisa dikembalikan lakukan sepenuhnya! Tunjukan integritas kita.
Bab III Aman dan Bersih
[Ahmad termenung kembali. Bayangkan saja jika masyarakat kita ini jujur semua. Tidak ada korupsi tidak ada tipu menipu. Masyarakat kita bisa dipercaya. Dengan dipercaya maka banyak pihak yang menanamkan uangnya di daerah kita. Dengan begitu roda ekonomi bergerak semakin cepat. Dengan rasa tanggungjawab yang tinggi maka bebaslah kita dari belenggu kemiskinan] Bang Ali : Bagaimana? ada yang mau ditanya?
Ahmad : Sampai di sini saya mengerti, Bang. Berarti benar ya orang tua-orang tua kita jaman dahulu menanamkan budi pekerti yang luhur. Ya tujuannya untuk itu ya Bang.
Bang Ali : Ya. Tadi kita bicara bagaimana masyarakatnya, sekarang ada syarat lagi untuk menjadi makmur sejahtera, yaitu Aman
Ahmad : Aman? Di kehidupan sehari-hari, daerah yang miskin memang cenderung tidak aman. Banyak preman yang mengganggu, banyak pencuri, banyak perampok dan sebagainya. Karena alasan mereka adalah kesulitan ekonomi.
Bang Ali : Ya, alasan mereka selalu seperti itu. Kesulitan ekonomi membuat suatu daerah tidak aman. Padahal obat mujarabnya adalah terbalik! Jika keadaan suatu daerah dibuat aman, maka tidak ada lagi itu yang namanya kesulitan ekonomi.
Ahmad : Begitu ya Bang?
Bang Ali : Iya. Jika kita menjaga lingkungan sekitar kita dengan keamanan yang baik, maka banyak orang yang berbondong-bondong untuk menghidupkan daerah ini dengan berinvestasi. Jika ada pabrik baru, toko baru dan lain sebagainya, maka jumlah pengangguran pasti akan habis terserap. Pendapatan akan meningkat. Jika keadaan lingkungan sekitar kita biarkan tidak aman, maka daerah itu akan terus terjerumus di lembah kemiskinan.
Ahmad : Berarti kita juga harus ikut menjaga keamanan lingkungan?
Bang Ali : Betul. Sekarang ini banyak isu tentang narkoba di kalangan anak muda. Jika kita ikut peduli untuk mengamankan daerah kita dari narkoba, kita akan sangat membantu dalam mengentaskan kemiskinan.
Ahmad : Lho? Narkoba itu identik dengan kemiskinan ya? Penggunanya juga banyak dari kalangan atas kan?
Bang Ali : Salah. Narkoba bisa menyerang siapa saja. Jika sudah terkena, seperti virus, pasti akan cepat menyebar. Memang kesannya pengguna narkoba berasal dari kalangan atas, tetapi dampak yang lebih buruk adalah kalangan bawah. Mereka selalu menjadi korban. Kalangan atasnya lepas tangan sambil menertawakan. Jika lingkungan Anda tidak ingin miskin, bebaskan lingkungan dari Narkoba dan coba peduli dengan keamanan sekitar Anda.
Omong-omong Anda pernah punya toko?
Ahmad : pernah Bang, counter Hape.
Bang Ali : Masih jalan?
Ahmad : Udah nggak Bang
Bang Ali : Mengapa tidak jalan?
Ahmad : Susah Bang, daerahnya banyak preman. banyak pungutan liar ini itu tidak jelas. Daripada pusing, mending ditutup aja.
Bang Ali : Nah, persis seperti itu kasusnya.Perekonomian akan tumbuh jika ada jaminan keamanan
[Ahmad kembali mencatat, jika ingin keluar dari kemiskinan, ciptakan lingkungan yang aman]
Ahmad : Wah terimakasih Bang. udah cukup ya obat mujarabnya?
Bang Ali : Tunggu masih ada lagi. faktor yang juga penting. Dan masalah ini juga sudah mengakar di masyarakat kita. Untuk lebih makmur sejahtera, lingkungan kita harus bersih!
Ahmad : Wah saya kira apa. Tapi apa betul bersih itu bisa membebaskan kita dari belenggu kemiskinan?
Bang Ali : Pasti! Tepatnya bersih memberikan kita banyak kesempatan untuk mencapai kemakmuran.
Yang cukup berat adalah di masyarakat kita yang belum maju, budaya bersih masih susah diterapkan.
Ahmad : Sekali lagi Bang, bukannya terbalik nih? apa seharusnya banyak uang dulu baru bisa bersih? kan bersih itu butuh uang, butuh ada pasukan pembuang sampah yang banyak, perlu ada yang merawat taman dan lain-lain.
Bang Ali : Tidak tepat. Bersih itu tidak selamanya membutuhkan uang. Itu berangkat dari dalam diri kita sendiri. Jika kita sudah tekad untuk hidup bersih, maka dimanapun kita berada akan terasa nyaman untuk
ditinggal.
Hubungan bersih dengan kemiskinan adalah hubungan terbalik. Semakin bersih, kita semakin jauh dari kemiskinan. Jika ada yang beralasan mengapa kita belum bisa bersih karena kita belum ada uang, adalah pernyataan yang sangat keliru. Daerah pemukiman padat tidak harus kumuh. Jika masyarakatnya bisa menjaga kebersihan, sekali lagi kesempatan akan datang. Coba lihat kota besar separti Singapura dan Kuala Lumpur. Kebersihan sangat mendukung industri pariwisatanya.
Omong-omong Anda suka makan di warung atau rumah makan?
Ahmad : Suka Bang.
Bang Ali : Anda lebih suka yang bersih atau yang tidak?
Ahmad : Pasti yang bersih Bang.
Bang Ali : Anda sadar atau tidak, pelanggan itu menilai suatu tempat adalah dari keadaan toilet atau kamar mandinya.
Ahmad : Oh ya? Apa begitu Bang?
Bang Ali ; Betul! pelanggan berfikir jika toilet atau kamar mandi saja tidak becus dibersihkan, pastinya semua pelayanan termasuk makanannya kacau.
[Bang Ali lalu lanjut bertanya}
Bang Ali : Anda adalah seorang Muslim kan?
Ahmad : Iya Bang
Bang Ali : Apa yang anda tahu tentang kebersihan?
Ahmad : Kebersihan itu adalah sebagian dari Iman, Bang. Sekarang saya mengerti, jika kita menganggap iman kita baik, maka harus tercermin dari kebersihan di lingkungan sekitar kita ya Bang.
[Ahmad mencatat sambil tersenyum, semakin bersih maka semakin besar peluang untuk menyingkirkan kemiskinan]
Bang Ali : Satu hal yang menjadi dilema adalah lingkaran setan kemiskinan lagi. Kebersihan ini juga cermin dari tingkat pendidikan masyarakatnya.
Berapa banyak orang yang masih membuang sampah sembarangan? Di tengah jalan atau di pinggir kali?
Jika pendidikan di masyarakat baik, kebersihan cenderung terpelihara, karena mereka sudah mengerti dampak buruk dari lingkungan yang kotor dan jorok. Di beberapa tempat masyarakatnya belum sadar akan kebersihan karena faktor pendidikan tadi.
Ahmad : Kemiskinan, keamanan buruk, pendidikan buruk, kebersihan buruk dan berakhir di kemiskinan lagi. Wah benar-benar lingkaran setan ya Bang
Bang Ali : Iya. Jika kita tidak dobrak budaya buruk kita sendiri, selamanya daerah kita akan sangat lambat
pertumbuhannya atau terus miskin.
[Bersambung]
| Comments |
|



