Sejuknya udara pagi hari di sekitar Taman Pemakaman Umum Utan Jati memberikan kerinduan tersendiri akan udara Cengkareng bertahun-tahun lalu. Titik-titik embun masih terlihat di dedaunan dan di rerumputan yang melapisi sebagian permukaan makam. Burung-burung kecil terlihat bersenda gurau berterbangan di antara dahan pepohonan. CENGKARENG.INFO hampir tidak bisa membayangkan bahwa beberapa saat lagi jalan raya yang cukup sempit di depan TPU ini akan terlihat padat dengan kendaraan umum dan pribadi yang melintas.
|
Seperti layaknya aktivitas sebuah kantor di awal pagi, CENGKARENG.INFO melihat adanya kesibukan di tempat ini. Beberapa orang terlihat sedang menyiram rumput dan tanaman. Selang air melintang jauh hingga ke tengah pelataran makam. Selain menyiram makam, ada juga yang merawatnya dengan membersihkan tanaman-tanaman liar di sekelilingnya.
Setelah mengunjungi salah satu makam di sana, CENGKARENG.INFO mendekati salah seorang penjaga makam yang sedang beristirahat di sela-sela kesibukannya merawat makam. Bang Faisal dengan ramah memperkenalkan diri kepada CENGKARENG.INFO. Pria muda yang tinggal di belakang pelataran makam ini sudah akrab dengan lingkungan makam sejak dari kecil. Makam yang bagi sebagian orang adalah suatu tempat yang cukup menyeramkan dan angker ini bisa menjadi wahana untuk mencari nafkah bagi beberapa orang di sekiar TPU ini.
“Kami berjumlah sekitar 30 orang, Pak”, ketika CENGKARENG.INFO bertanya berapa jumlah pekerja di Taman Pemakaman Umum (TPU) ini. TPU Utan Jati sendiri hanya memiliki karyawan resmi hanya dua orang saja, lainnya adalah pihak yang lebih sering dikenal dengan sebutan mitra. Mitra ini tidak mendapat gaji atau tunjangan dari pihak makam, tetapi mereka mendapat penghasilan dari peziarah. Ada yang mendapat penghasilan rutin, ada juga yang memberikan uang setiap kunjungan ke makam. Seperti layaknya perusahaan jasa, para penjaga kuburan ini juga harus menjaga kredibilitas dan kualitas pelayanan terhadap para client-nya. Maka dari itu mereka sudah mengenal paling tidak wajah dari peziarah. Apakah itu bapak, ibu atau sanak saudara dari orang yang tinggal di makam atau rumah kontrakan terakhir ini.
Tidak lama berselang, datang Bang Syukur. Beliau selain ikut berprofesi sebagai penjaga makam tetapi juga memiliki usaha sendiri di dalam pelataran, yaitu berjualan minuman botol dan makanan ringan dengan bermodalkan etalase kaca. “Kami menyiram rumput dan merawat makam bukan setiap pagi saja, sore hari pun kami melakukan hal yang sama untuk menjaga kesegaran rerumputan dan tanaman di atas makam”, ujar Bang Syukur.
![]() |
Hari raya dan bulan puasa adalah masa yang paling dinanti-nantikan oleh para pekerja makam ini. “Muka-muka kita semua berubah menjadi cerah semua. Banyak senyum. Tapi setelah dua bulan, berubah kembali seperti biasanya”, tambah Bang Syukur sengan gaya jenaka.
Pendapatan perhari mereka tidak pasti jumlahnya. Dalam satu hari bisa mendapatkan Rp25 ribu sampai dengan Rp30 ribu jika sedang beruntung, malah bisa saja mereka tidak mendapat uang sama sekali selama satu hari penuh. Momen yang juga menentukan adalah pada saat adanya project menggali lubang kuburan baru. Biasanya untuk menggali satu unit kuburan dibutuhkan sekitar empat orang personel. Bayaran yang mereka terima adalah Rp15.000,- per orangnya.
![]() |
Memang cukup unik kehidupan dari 30 orang peerja makam di TPU Utan Jati ini. Dengan hidup tanpa gaji dan hanya dari pemberian peziarah, mereka harus bertahan menghidupi keluarga mereka di era krisis yang masih melanda negeri ini.
| Comments |
|







