Dunia belantara musik rock Indonesia sudah mendapat tempat di hati anak negeri. Dalam sepuluh tahun terakhir banyak sekali band-band atau artis-artis penyanyi yang lahir meramaikan panggung dunia musik kita.
Terlepas dari isu pembajakan dan pelanggaran hak cipta yang masih melanda negeri, para musisi merasa optimis suatu saat nanti perlindungan hukum akan lagu-lagu mereka akan mengalami kemajuan yang berarti. Mereka pun berharap agar industri musik akan menjadi lebih hidup dan diperhitungkan di tanah air tercinta ini.
Salah seorang mantan warga kompleks perumahan Imigrasi Cengkareng bernama Danny Hadju menyadari hal itu. Dengan berbekal keyakinan, kemampuan serta pengalaman bermusik yang baik, Danny dengan Band hasil bentukkannya yang diberi nama DETUNA ini, siap tampil terjun ke pentas musik rock Indonesia. Siapakah Danny Hadju? Apa jenis musik yang dibawakan? Bagaimana persiapan dalam pembuatan album perdananya?
Terlahir di bumi Kalimantan, Danny pindah ke Cengkareng pada usia balita karena mengikuti orangtua yang berdinas di Imigrasi. Di Cengkareng inilah Danny menghabiskan masa kecilnya mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Dasar yang bernama Yustikarini (kini berubah nama menjadi TK dan SD Kertapawitan).
Danny mulai menyukai musik ketika duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar. Ketika itu ia sangat menyukai musik pop dan disko di era dekade delapanpuluhan. Musik tersebut dikenal dari koleksi kakak perempuannya dalam bentuk video beta seperti ABBA, Boney M dan lain-lain. Pada kelas 5 Sekolah Dasar, Danny kemudian pindah ke kota Bangkok Thailand karena harus pindah untuk mengikuti tempat dinas orangtunya. Bersekolah di SIB (Sekolah Indonesia Bangkok) hingga kelas 1 SMA, di ibukota negeri Gajah Putih inilah Danny mulai lebih senang mendengarkan lagu-lagu bertema cinta.
Instrumen musik yang pertama kali dimainkan adalah instrumen drum, karena pada kelas enam Sekolah Dasar, kakak kelas Danny sering mengajak untuk nge-band. Lagu yang pertama kali dimainkan adalah lagu Against All Odds yang dipopulerkan oleh Phil Collins, drummer sekaligus vokalis dari salah satu band progressive rock legendaris, Genesis. Kegilaannya pada drum, membuatnya senang untuk mengoleksi rekaman karya-karya band legendaris tersebut. Seolah tidak ada hari tanpa mendengarkan lagu-lagu mereka. Namun ketika pada suatu ketika di sebuah toko rental kaset video, Danny menonton sebuah video musik berformat VHS tentang konser Van Halen sedang diputar. Pada saat itulah ia merasa yakin bahwa gitar adalah instrumen yang harus dimainkan mulai saat itu dan masa datang.
Ketika menginjak kelas satu Sekolah Menegah Atas, Danny kembali pindah ke Jakarta dan melanjutkan studinya di SMA Negeri 6 Jakarta selatan sampai tamat. Di sanalah Danny kerap bermain pada pentas-pentas seni di sekolah dan beberapa kali mengisi acara atas nama SMA Negeri 6 di sekolah-sekolah lain. Danny dan band SMA-nya pernah diberi kepercayaan untuk menjadi band pembuka untuk penampilan band asal Jakarta, Acid Speed Band ( band imitator Rolling Stones yang cukup terkenal pada akhir dekade delapanpuluhan).
Selepas lulus dari Sekolah Menengah, Danny melanjutkan studi untuk kuliah di Universitas Trisakti Jakarta hingga tamat dan langsung meneruskan kuliah ke jenjang pascasarjana di Universitas Wollongong Australia. Sempat bekerja sebagai profesional di Sydney selama kurun waktu hampir selama empat tahun, Danny pun kembali ke Indonesia pada akhir tahun 2003 silam.
Sejak mulai kuliah di Universitas Trisakti sampai kepulangannya ke Indonesia adalah merupakan masa-masa tanpa bermusik karena jarang sekali gitarnya tersentuh. Selama di Australia pun ia bahkan merasa jenuh pada musik. Kepulangannya ke Indonesia itulah yg kembali membangkitkan semangat untuk bermusik, sampai akhirnya terbentuklah DETUNA.
Sejarah DETUNA sebagai sebuah music project/band berawal di awal tahun 2004 silam. Ketika ia memutuskan untuk kembali memainkan gitar listriknya yang lama tidak tersentuh, pertemuannya dengan seorang vocalist bernama Daniel pada saat tampil bersama di sebuah acara amal di Universitas Jayabaya Jakarta pada Maret 2004 adalah awal dari ide untuk mendirikan DETUNA. Pada awalnya konsep duo (gitaris + vokalis) yang berakar pada aliran musik hardrock inilah yang diusung oleh Danny untuk DETUNA.
Beberapa lagu awal di album debut DETUNA, ditulis oleh Danny bersama Daniel. Lagu “Rock Duniaku” adalah lagu pertama yg dirilis resmi melalui situs www.detuna.com. Proses rekaman dan penulisan seluruh lagu untuk album debut pertama DETUNA ini memakan waktu kurang lebih dari dua tahun lamanya, yang semua prosesnya dilakukan di CORD Studio dengan Darwin sebagai sound engineer. Album ini diproduksi secara independen dibawah label DETUNA Rocks Production, sebuah label rekaman yang didirikan oleh Danny bekerjasama dengan Darwin.
Kelanjutan kerjasama dengan Daniel terhenti pada pertengahan th 2006 lalu, sehingga pada akhirnya Danny memutuskan menjadikan konsep DETUNA sebagai sebuah music project namun tetap dengan konsep format standar rock band untuk recording maupun untuk pementasan di atas panggung. Pada desember 2006 akhirnya Danny mendapatkan seorang additional vocalist yaitu Fire Of Imana (FOI) yang dirasakan Danny memiliki karakter vokal yang pas untuk materi album. FOI kemudian menyanggupi untuk mengisi semua track vokal untuk album pertama DETUNA tersebut, yaitu “Rock n roll is (not) good enough“. Dengan mengusung musik Hard Rock kental gaya delapanpuluhan dan lagu-lagu yang catchy, Danny siap untuk meramaikan belantara musik negeri ini.
Good luck with Your Band, Dan. Semoga sukses selalu!
Profil singkat
Nama : Danny Hadju
Lahir : West Borneo, about 3 decades ago.
Senjata rahasia :
- An old and unconvincing Aria-Pro II Libra guitar
- Dimarzio Tone Zone Humbucking PU
- Boss SD-1
- DMC (dudu’s Mic-Amp Clone) preamp
DETUNA Management :
Alam Segar I/17 Pondok Indah,
Jaksel 12310 Indonesia.
Fax : (021) 7502294
The Official Site : http://detuna.com
HP: 08164843130
Email :
This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
- AA
| Comments |
|



